Kompas. Selasa, 10 Februari 2009
Jakarta, Kompas - Minat siswa lulusan SMA melanjutkan studi ke jurusan pertanian di sejumlah perguruan tinggi dalam lima tahun ini cenderung menurun. Kondisi ini dalam jangka panjang bisa mengancam kedaulatan pangan dan swasembada pangan.
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, akhirnya mengubah kurikulum untuk menarik minat calon mahasiswa sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan saat ini dan masa depan. Demikian dituturkan Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Ir Didik Suprayogo, MSc, PhD, Senin (9/2) di Malang.
”Banyak faktor yang menyebabkan turunnya minat calon mahasiswa memasuki jurusan pertanian. Ini suatu keprihatinan tersendiri bagi Indonesia sebagai negeri agraris,” ujarnya.
Data dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya menggambarkan, tahun 2004 jumlah mahasiswa pertanian mencapai 398 orang, tahun 2005 turun menjadi 350 orang, tahun 2006 hanya 303 orang, dan tahun 2007 sebanyak 343 orang. Mereka belajar di tujuh program studi fakultas pertanian kala itu, yaitu jurusan agronomi, hortikultura, ilmu tanah, agribisnis, penyuluhan dan komunikasi pertanian, hama dan penyakit tumbuhan, serta pemuliaan.
Menurut Didik, menurunnya minat pelajar mengambil jurusan pertanian bisa bermacam-macam faktor, antara lain citra mengecilkan masa depan lulusan jurusan pertanian, ketidaktahuan mengenai ilmu pertanian, dan berbagai sebab lainnya.
”Saat ini ada kecenderungan pertanian di Indonesia image- nya negatif. Kalau mengambil ilmu pertanian, kesannya setiap orang harus siap nyangkul. Padahal, itu tidak benar. Tidak semua lulusan pertanian harus mencangkul di sawah,” ujar Didik.
Ubah kurikulum
Melihat kondisi itu, menurut Didik, akhirnya Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berubah. Pada tahun 2008 mereka melebur tujuh program studi menjadi hanya dua program studi, yaitu Agroekoteknologi dan Agribisnis.
Sejak perubahan kurikulum tersebut, tahun 2008 peminat jurusan pertanian cukup banyak. Dibandingkan dengan peminat tahun 2007 yang hanya 343 orang, tahun 2008 peminatnya melonjak menjadi 504 orang. Mereka terbagi dalam jurusan agroekoteknologi sebanyak 215 orang, dan agribisnis sebanyak 289 orang.
Restrukturisasi program studi juga dilakukan Fakultas Universitas Negeri Jember (Unej). Minat mahasiswa untuk masuk ke Fakultas Pertanian Unej pun mulai bertambah. Ini merupakan terobosan para pimpinan fakultas pertanian guna meningkatkan serta menyesuaikan kebutuhan sarjana pertanian dengan kondisi sekarang.
Pembantu Rektor II Unej Dr Ir Yani Yanuar MP, Senin, mengatakan, awalnya hampir semua fakultas pertanian di negeri ini kurang peminat. Untuk itu, Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) berkumpul dan membuat terobosan merevitalisasi pendidikan bidang pertanian.
]Di Yogyakarta, peminat Fakultas Pertanian di Universitas Gadjah Mada (UGM) cenderung menurun selama setidaknya lima tahun terakhir. Fakultas Pertanian juga cenderung hanya menjadi pilihan kedua bagi mahasiswa.
Dekan Fakultas Pertanian UGM Triwibowo Yuwono mengatakan, kalau generasi muda tidak mau lagi belajar pertanian, sektor pertanian Indonesia akan makin miskin sumber daya manusia.
Selama beberapa tahun terakhir, jumlah mahasiswa di Fakultas Pertanian UGM tidak pernah lagi memenuhi kursi yang tersedia. Pada tahun ajaran 2008/2009, dari sekitar 300 kursi yang disediakan, terdapat 20 persen kursi kosong. Banyaknya kursi kosong ini disebabkan sejumlah mahasiswa yang diterima tidak kembali untuk melakukan daftar ulang.
Di Universitas Padjadjaran, Bandung, kuota 400 mahasiswa pertanian per tahun selalu terisi penuh. Meski demikian, menurut Dekan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Prof Yuyun Yuwariah, terjadi penurunan minat calon mahasiswa yang mendaftar dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan peminat juga terjadi di sejumlah fakultas pertanian di luar Jawa, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Ketua Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia Suntoro Wongso Atmojo di Kota Solo, mengatakan, menghadapi penurunan minat ini, perguruan tinggi dan pemerintah harus melakukan terobosan agar fakultas pertanian menjadi menarik.(DIA/SIR/JON/ROW/ IRE/EKI/INE)
Jakarta, Kompas - Minat siswa lulusan SMA melanjutkan studi ke jurusan pertanian di sejumlah perguruan tinggi dalam lima tahun ini cenderung menurun. Kondisi ini dalam jangka panjang bisa mengancam kedaulatan pangan dan swasembada pangan.
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang, akhirnya mengubah kurikulum untuk menarik minat calon mahasiswa sekaligus menyesuaikan dengan kebutuhan saat ini dan masa depan. Demikian dituturkan Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Ir Didik Suprayogo, MSc, PhD, Senin (9/2) di Malang.
”Banyak faktor yang menyebabkan turunnya minat calon mahasiswa memasuki jurusan pertanian. Ini suatu keprihatinan tersendiri bagi Indonesia sebagai negeri agraris,” ujarnya.
Data dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya menggambarkan, tahun 2004 jumlah mahasiswa pertanian mencapai 398 orang, tahun 2005 turun menjadi 350 orang, tahun 2006 hanya 303 orang, dan tahun 2007 sebanyak 343 orang. Mereka belajar di tujuh program studi fakultas pertanian kala itu, yaitu jurusan agronomi, hortikultura, ilmu tanah, agribisnis, penyuluhan dan komunikasi pertanian, hama dan penyakit tumbuhan, serta pemuliaan.
Menurut Didik, menurunnya minat pelajar mengambil jurusan pertanian bisa bermacam-macam faktor, antara lain citra mengecilkan masa depan lulusan jurusan pertanian, ketidaktahuan mengenai ilmu pertanian, dan berbagai sebab lainnya.
”Saat ini ada kecenderungan pertanian di Indonesia image- nya negatif. Kalau mengambil ilmu pertanian, kesannya setiap orang harus siap nyangkul. Padahal, itu tidak benar. Tidak semua lulusan pertanian harus mencangkul di sawah,” ujar Didik.
Ubah kurikulum
Melihat kondisi itu, menurut Didik, akhirnya Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya berubah. Pada tahun 2008 mereka melebur tujuh program studi menjadi hanya dua program studi, yaitu Agroekoteknologi dan Agribisnis.
Sejak perubahan kurikulum tersebut, tahun 2008 peminat jurusan pertanian cukup banyak. Dibandingkan dengan peminat tahun 2007 yang hanya 343 orang, tahun 2008 peminatnya melonjak menjadi 504 orang. Mereka terbagi dalam jurusan agroekoteknologi sebanyak 215 orang, dan agribisnis sebanyak 289 orang.
Restrukturisasi program studi juga dilakukan Fakultas Universitas Negeri Jember (Unej). Minat mahasiswa untuk masuk ke Fakultas Pertanian Unej pun mulai bertambah. Ini merupakan terobosan para pimpinan fakultas pertanian guna meningkatkan serta menyesuaikan kebutuhan sarjana pertanian dengan kondisi sekarang.
Pembantu Rektor II Unej Dr Ir Yani Yanuar MP, Senin, mengatakan, awalnya hampir semua fakultas pertanian di negeri ini kurang peminat. Untuk itu, Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia (FKPTPI) berkumpul dan membuat terobosan merevitalisasi pendidikan bidang pertanian.
]Di Yogyakarta, peminat Fakultas Pertanian di Universitas Gadjah Mada (UGM) cenderung menurun selama setidaknya lima tahun terakhir. Fakultas Pertanian juga cenderung hanya menjadi pilihan kedua bagi mahasiswa.
Dekan Fakultas Pertanian UGM Triwibowo Yuwono mengatakan, kalau generasi muda tidak mau lagi belajar pertanian, sektor pertanian Indonesia akan makin miskin sumber daya manusia.
Selama beberapa tahun terakhir, jumlah mahasiswa di Fakultas Pertanian UGM tidak pernah lagi memenuhi kursi yang tersedia. Pada tahun ajaran 2008/2009, dari sekitar 300 kursi yang disediakan, terdapat 20 persen kursi kosong. Banyaknya kursi kosong ini disebabkan sejumlah mahasiswa yang diterima tidak kembali untuk melakukan daftar ulang.
Di Universitas Padjadjaran, Bandung, kuota 400 mahasiswa pertanian per tahun selalu terisi penuh. Meski demikian, menurut Dekan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Prof Yuyun Yuwariah, terjadi penurunan minat calon mahasiswa yang mendaftar dalam beberapa tahun terakhir.
Penurunan peminat juga terjadi di sejumlah fakultas pertanian di luar Jawa, baik perguruan tinggi negeri maupun swasta. Ketua Forum Komunikasi Perguruan Tinggi Pertanian Indonesia Suntoro Wongso Atmojo di Kota Solo, mengatakan, menghadapi penurunan minat ini, perguruan tinggi dan pemerintah harus melakukan terobosan agar fakultas pertanian menjadi menarik.(DIA/SIR/JON/ROW/ IRE/EKI/INE)