SM. 02 Desember 2008
Tajuk Rencana
Hari Menanam Sedunia, yang pekan lalu ditandai dengan penanaman puluhan ribu pohon di berbagai daerah, tentu tak kita harapkan heboh hanya sebagai seremoni. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan penanaman 100 juta pohon. Menteri Kehutanan MS Ka’ban juga pernah meneriakkan slogan ”Jangan Pernah Berhenti Menanam”. Elemen-elemen masyarakat, bukan sekadar terkait dengan seremoni penanaman, melakukan gerakan penghijauan dan rehabilitasi lahan kritis. Semua bergerak menanam pohon. Dari slogan ke aksi. Begitulah seharusnya, kita berhenti banyak bicara, lalu lebih banyak memberi bukti.
Tanpa melihat data lahan kritis pun, pentingnya reboisasi sangat kita rasakan. Dari sisi peruntukan lahan saja sudah terbaca betapa keseimbangan ekosistem sekarang ini menghadapi ketimpangan yang menggelisahkan. Peristiwa banjir, tanah longsor, dan perubahan kondisi daerah pada musim kemarau dan penghujan merupakan cermin keadaan yang timbul karena ketergangguan keseimbangan. Daerah-daerah yang mulanya hijau subur menjadi kering dan mengalami susah air pada musim kemarau, dan yang mulanya tidak kenal banjir tiba-tiba menghadapi keadaan terkena limpasan air pada musim penghujan.
Gerakan menanam pohon dan menghijaukan kembali yang bermunculan belakangan ini, patut kita sambut sebagai kesadaran kolektif. Dalam kalimat minimalis, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Hanya memang perlu dikemas benar-benar menjadi kearifan lingkungan. Kita pernah menggarisbawahi ajakan Direktur Walhi Jawa Tengah Muzayyin Arief, momen dan jalur apa pun bisa dimanfaatkan untuk menggalakkan kesadaran berlingkungan, antara lain dengan menanam dan memelihara pohon. Misalnya ketika seseorang mengurus surat-surat ke kelurahan, mendaftar sebagai mahasiswa baru, dan sebagainya.
Akibat-akibat pemanasan global sekarang sudah sangat dirasakan oleh masyarakat dunia. Kondisi tersebut disadari sebagai realitas perkembangan iklim yang tidak mungkin dihindarkan. Dan, yang maksimal bisa dilakukan sesungguhnya adalah bagaimana menekan ekstremitas pergerakan semua akibatnya. Maka yang harus ditumbuhkan adalah sikap-sikap yang ”ramah iklim” dengan basis internalisasi ”ramah lingkungan”, tidak justru mempercepat akibat-akibat potensial dari pemanasan global. Salah satunya tentulah bagaimana kita menggalakkan penanaman pohon di semua sektor yang memungkinkan untuk ditanami.
Pengaruh dari penanaman pohon-pohon itu memang tidak akan dirasakan secara langsung, tetapi lebih sebagai mekanisme untuk menekan percepatan akibat-akibat pemanasan global. Ekstremitas akibat itulah yang sesungguhnya sedang kita ikhtiarkan untuk dilawan. Kita sudah sama-sama merasakan akibat dari pengelolaan tata ruang yang menyebabkan ketidakterkendalian tanah longsor, banjir, kelangkaan sumber-sumber air, penurunan daya akomodasi tanah, serta kerusakan habitat flora dan fauna. Kesadaran bergerak untuk menghijaukan kembali semua lahan merupakan salah satu pilihan yang paling sederhana.
Cinta, internalisasi sikap terhadap lingkungan hidup harus terus ditumbuhkan, terutama demi masa depan bumi bagi masa depan anak cucu. Sikap cinta lingkungan harus dikembangkan kepada anak-anak sejak dari usia dini, dan sekolah-sekolah bisa menjadi lokomotif yang efektif untuk menggerakkannya. Dari pendekatan regulasi, keberpihakan kepada pelestarian alam juga menjadi bagian dari keberpihakan para pengambil keputusan demi rasa keadilan rakyat. Ketidakterkendalian kerakusan ekonomi hanya akan menelan lingkungan. Hanya dengan kearifanlah keadilan lingkungan itu bisa sama-sama kita ciptakan.
Tajuk Rencana
Hari Menanam Sedunia, yang pekan lalu ditandai dengan penanaman puluhan ribu pohon di berbagai daerah, tentu tak kita harapkan heboh hanya sebagai seremoni. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan penanaman 100 juta pohon. Menteri Kehutanan MS Ka’ban juga pernah meneriakkan slogan ”Jangan Pernah Berhenti Menanam”. Elemen-elemen masyarakat, bukan sekadar terkait dengan seremoni penanaman, melakukan gerakan penghijauan dan rehabilitasi lahan kritis. Semua bergerak menanam pohon. Dari slogan ke aksi. Begitulah seharusnya, kita berhenti banyak bicara, lalu lebih banyak memberi bukti.
Tanpa melihat data lahan kritis pun, pentingnya reboisasi sangat kita rasakan. Dari sisi peruntukan lahan saja sudah terbaca betapa keseimbangan ekosistem sekarang ini menghadapi ketimpangan yang menggelisahkan. Peristiwa banjir, tanah longsor, dan perubahan kondisi daerah pada musim kemarau dan penghujan merupakan cermin keadaan yang timbul karena ketergangguan keseimbangan. Daerah-daerah yang mulanya hijau subur menjadi kering dan mengalami susah air pada musim kemarau, dan yang mulanya tidak kenal banjir tiba-tiba menghadapi keadaan terkena limpasan air pada musim penghujan.
Gerakan menanam pohon dan menghijaukan kembali yang bermunculan belakangan ini, patut kita sambut sebagai kesadaran kolektif. Dalam kalimat minimalis, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Hanya memang perlu dikemas benar-benar menjadi kearifan lingkungan. Kita pernah menggarisbawahi ajakan Direktur Walhi Jawa Tengah Muzayyin Arief, momen dan jalur apa pun bisa dimanfaatkan untuk menggalakkan kesadaran berlingkungan, antara lain dengan menanam dan memelihara pohon. Misalnya ketika seseorang mengurus surat-surat ke kelurahan, mendaftar sebagai mahasiswa baru, dan sebagainya.
Akibat-akibat pemanasan global sekarang sudah sangat dirasakan oleh masyarakat dunia. Kondisi tersebut disadari sebagai realitas perkembangan iklim yang tidak mungkin dihindarkan. Dan, yang maksimal bisa dilakukan sesungguhnya adalah bagaimana menekan ekstremitas pergerakan semua akibatnya. Maka yang harus ditumbuhkan adalah sikap-sikap yang ”ramah iklim” dengan basis internalisasi ”ramah lingkungan”, tidak justru mempercepat akibat-akibat potensial dari pemanasan global. Salah satunya tentulah bagaimana kita menggalakkan penanaman pohon di semua sektor yang memungkinkan untuk ditanami.
Pengaruh dari penanaman pohon-pohon itu memang tidak akan dirasakan secara langsung, tetapi lebih sebagai mekanisme untuk menekan percepatan akibat-akibat pemanasan global. Ekstremitas akibat itulah yang sesungguhnya sedang kita ikhtiarkan untuk dilawan. Kita sudah sama-sama merasakan akibat dari pengelolaan tata ruang yang menyebabkan ketidakterkendalian tanah longsor, banjir, kelangkaan sumber-sumber air, penurunan daya akomodasi tanah, serta kerusakan habitat flora dan fauna. Kesadaran bergerak untuk menghijaukan kembali semua lahan merupakan salah satu pilihan yang paling sederhana.
Cinta, internalisasi sikap terhadap lingkungan hidup harus terus ditumbuhkan, terutama demi masa depan bumi bagi masa depan anak cucu. Sikap cinta lingkungan harus dikembangkan kepada anak-anak sejak dari usia dini, dan sekolah-sekolah bisa menjadi lokomotif yang efektif untuk menggerakkannya. Dari pendekatan regulasi, keberpihakan kepada pelestarian alam juga menjadi bagian dari keberpihakan para pengambil keputusan demi rasa keadilan rakyat. Ketidakterkendalian kerakusan ekonomi hanya akan menelan lingkungan. Hanya dengan kearifanlah keadilan lingkungan itu bisa sama-sama kita ciptakan.
0 comments:
Post a Comment